Sabtu, 13 Mei 2017

AMBULANS JADI TEMPAT PELACURAN KOTA, JANGAN KETUK JIKA MOBIL BERGOYANG


OKEKIUKIU - Seorang pengusaha Denmark, Michael Lodberg Olsen, menyulap sebuah ambulans bekas menjadi tempat penjaja seks untuk melayani pelanggan-pelanggan mereka di kota Kopenhagen.

Ia berdalih, langkah itu bertujuan membantu para pelacur dari risiko kekerasan dan eksploitasi. Sesudah ini, masih banyak upaya lain yang masuk daftar gagasan-gagasan Michael.

Michael Lodberg Olsen mengajak BBC untuk melihat sebuah ambulans tua, yang sudah lama tidak di pakai.

"Jadi apa yang terjadi di sini?" tanya BBC.

"Seks," jawabnya sembali mengedipkan matanya dan tergelak.

Saat reporter BBC melangkah masuk, suasana dalam ambulans tidak terlalu membangkitkan.

Segalanya masih terlalu berbau medis. Dindingnya abu-abu, ada kursi biru, dan dingin sekali dengan suhu 1 derajat Celcius dan di luar salju turun. Namun, ambulans tua yang disebut Sexelance ini menjadi ruang aman bagi pekerja seks di Kopenhagen.

Mereka bisa membawa langganan ke sini dengan sepengetahuan para relawan di sekitarnya, yang siap bertindak jika hal-hal buruk terjadi.

Statistik menunjukan bahwa hal itu sering terjadi.

"Sebanyak 45 persen pekerja seks Denmark mengalami kekerasan atau ancaman, namun di rumah bordil persentasenya hanya 3 persen," jelas Michael.


BACA: Pelayan Seksi Hadir Di Restoran 'Hooters' Jakarta

Yang menjadi sasaran bantuan Michael adalah para pelacur yang menjajakan seks di jalanan karena tidak mampu menggunakan rumah bordil.

Sexelance digunakan secara gratis karena kendati prostitusi sudah disahkan di Denmark sejak tahun 1999, namun masih dianggap melanggar hukum jika para pekerja seks menyewa kamar atau menyewa jasa untuk bisnis mereka.

Selain tersedia para relawan untuk memberikan perlindungan, di dalam ambulans juga ada pengumuman di dinding yang berbunyi "Polisi akan dipanggil jika terjadi tanda-tanda kekerasan".
Juga ada seruan agar para pekerja seks segera menghubungi pihak berwenang jika mereka menjadi korban perdagangan manusia.

Di dalam ruangan juga terdapat beberapa sarana untuk membantu aktivitas pekerja seks. Ada juga pemanas ruang yang dijalankan dari genset yang diletakkan di luar. Semua peralatan ini disediakan atas masukan para pekerja seks sendiri.

"Orang-orang ini adalah tetangga saya dan teman-teman saya, jadi saya mendengarkan mereka, mereka memiliki gagasan-gagasan terbaik atas apa yang mereka butuhkan," kata Michael.

Misalnya, ada pekerja seks yang mengatakan lutut mereka sering sakit.

"Jadi kami atasi dengan ini," katanya sambil melambaikan sebongkah busa empuk berwarna pelangi.


BACA: Gadis Ini Jual Rujak Dengan Pakaian Seksi

Ketika sexelance mulai beroperasi pada bulan November 2016, Michael tidak terlalu yakin akan keberhasilannya.

Awalnya, orang-orang enggan untuk menggunakannya, terutama para klien. Tapi sekarang tempat itu sudah digunakan 45 kali dan Michael mengatakan bahwa orang-orang menjadi lebih nyaman dengan gagasan tersebut.

Ia menawarkan berbagai ide dengan sentuhan humor yang enteng dan lucu, seperti bagaimana pekerja seks akan senang "mendandani" ambulans dengan tirai, cermin, dan karpet merah di dinding.

Namun, dalam melakukannya Michael sepenuhnya serius. Ini bukan pertama kalinya ia menggunakan ambulans tua untuk membantu apa yang ia sebut 'minoritas jalanan' di Kopenhagen, dan inisiatif pertamanya adalah mendengarkan pendapat orang.

Serupa dengan Sexelance, ada juga sebuah ambulans tua Jerman tahun 1990-an, yang disebut Fixelance. Ambulans tua ini dijadikan tempat untuk mengonsumsi obat-obatan bagi para pencandu narkoba dengan menyediakan juga dokter dan perawat serta dilengkapi perlengkapan, seperti jarum bersih dan Naxalone, penangkal untuk overdosis heroin.

Stiker yang bertuliskan "Jangan mengetuk pintu, jika mobil bergoyang" ditempelkan di dinding ambulans
Sejauh ini belum ada reaksi negatif terhadap Sexelance. Petugas polisi malah ikut membantu dengan menyarankan tempat terbaik untuk memarkirkan ambulans itu.

"Anda melihat sendiri bagaimana dinginnya suhu di luar, dan biasanya perempuan-perempuan itu melayani para pelanggannya di atas bangku (taman), atau di dalam mobil. Jadi, saya pikir kita tidak bisa membiarkan mereka melakukan hal itu berada di luar tanpa bantuan dari kita."