Rabu, 17 Mei 2017

TIGA RAJA FINAL LIGA CHAMPIONS

OKEKIUKIU - Sejak format baru diperkenalkan pertama kali di musim 1992/1993, Liga Champions telah menggelar 24 laga final. Untuk final edisi ke-25 di musim ini, dua tiket sudah dipesan oleh Juventus dan Real Madrid.

Juventus melaju ke partai puncak setelah sukses mendepak AS Monaco lewat skor agregat 4-1 di semifinal. Sementara Real Madrid mengeliminasi rival sekotanya, Atletico Madrid, dengan keunggulan agregat 4-2. Raksasa Italia dan Spanyol itu akan berjumpa di Stadion Millennium, Cardiff, Wales pada 3 Juni mendatang untuk memperebutkan trofi Liga Champions.

Lolosnya Juventus dan Madrid ke final Liga Champions bukanlah kejadian yang luar biasa. Dari 24 final sebelumnya, baik Juve maupun Madrid tercatat sebagai tim yang paling sering lolos, yakni sebanyak enam kali. Hanya AC Milan yang sanggup menyamai partisipasi Juve dan Madrid di final kompertisi elite Eropa tersebut.

Dengan demikian, status raja final Liga Champions layak disematkan kepada Juve, Madrid dan Milan. Namun, Madrid-lah yang paling pantas disebut sebagai raja sejati. Los Blancos mampu menjaga rekor 100 persen kemenangan di final dan berpeluang melanjutkan catatan impresif itu jika mengalahkan Juvetus tiga pekan mendatang.

BACA: Final Liga Europa: Ajax Amsterdam Vs Manchester United

Kemenangan atas Juventus bakal menghadirkan gelar Eropa ke-12 bagi Madrid sekaligus menjadi tim pertama dalam format baru Liga Champions yang mampu mempertahankan gelar dari musim sebelumnya. Juventus, tentu saja bakal sekuat tenaga untuk menghentikan ambisi Cristiano Ronaldo dkk.

Terlebih, Bianconeri ingin memperbaiki rekor buruk mereka di final, di mana mereka selalu gagal dalam empat kesempatan terakhir. Juve bahkan tampil di tiga final berturut-turut (1995/96 hingga 1997/98), sayang hanya satu gelar yang berhasil mereka gondol. Juventus juga terpaksa pulang dengan tangan hampa di dua final berikutnya.

Sementara Milan adalah kekuatan lama yang dahulu sangat disegani di Eropa. Rossoneri adalah tim terakhir yang mampu mempertahankan status sebagai juara Eropa (1988/89 dan 1989/90) sebelum format kompetisi diubah menjadi Liga Champions.

Dominasi The Dream Team, julukan skuat Milan kala itu, terus berlanjut dengan tiga kali beruntun muncul di final (1992/93 hingga 1994/95). Namun, seperti halnya Juventus, Milan hany sanggup sekali menang dari tiga ksempatan itu. Di bawah arahan Carlo Ancelotti, Milan kemudian sanggup memboyong dua trofi tambahan, meski harus diselingi dengan kekalahan dramatis dari Liverpool.