Sabtu, 16 September 2017

LEDAKAN BOM DI KERETA BAWAH TANAH: TEROR KEEMPAT DI LONDON

OKEKIUKIU - Insiden teror di stasiun bawah tanah di London, Inggris, pada Jumat pagi waktu setempat, adalah yang keempat terjadi di Inggris sepanjang tahun ini.

Teror pertama terjadi pada Rabu (22/3), ketika seorang pengemudi menabrakkan mobilnya dengan membabi buta pada pejalan kaki di Westminster. Kejadian ini menewaskan empat orang, serta menyebabkan belasan terluka.

Baca: Serangan Teror di Kota London, Inilah Kronologinya

Sementara itu, insiden kedua terjadi pada Sabtu (3/6) malam, ketika sebuah van menabrakkan diri ke kerumunan pejalan kaki di London Bridge disusul dengan penikaman oleh pria bersenjata di restoran di kawasan tersebut.

Enam tewas dan 50 lainnya terluka karena serangan teror tersebut, dengan dua warga negara Perancis dan dua warga negara Australia menjadi korban tewas.

Hanya berselang dua pekan kemudian, tepatnya pada Senin (19/6), terjadi insiden dengan modus operandi yang sama di masjid London.

Pelaku mengendarai van dan menabraki pejalan kaki di Seven Sisters Road, lepas tengah malam, dan membuat setidaknya satu orang tewas serta 10 lainnya terluka.


Serangan Keempat

Serangan keempat yang terjadi di Parsons Green, sedikitnya melukai 22 orang termasuk anak-anak. Tidak disebutkan berapa persisnya anak-anak yang jadi korban luka.

Saksi yang berada di lokasi kejadian mengaku melihat sejumlah korban terluka dan berlumuran darah pasca-ledakan di stasiun Parsons Green, dekat Fulham, London barat. Sejumlah saksi lain juga melihat kepanikan yang terjadi usai ledakan.

Richard Aylmer-Hall (53), konsultan media teknologi, diketahui tengah berada di sekitar lokasi kejadian ketika ia tiba-tiba merasakan kepanikan di sekelilingnya.

"Tiba-tiba ada kepanikan, banyak orang berteriak, menjerit. Ada seorang wanita yang mengaku ia melihat sebuah tas, sebuah kilat dan ledakan."

"Saya melihat para wanita menangis, ada banyak teriakan, ada kekacauan di tangga yang mengarah ke jalan. Sejumlah orang terdorong dan terinjak. Saya melihat ada dua wanita yang mendapat perawatan ambulans," kata Aylmer-Hall.

Sebuah sumber penegak hukum Amerika Serikat mengatakan, perangkat peledak yang digunakan dalam serangan Parsons Green adalah ember plastik putih dengan kain hitam di atasnya dan kabel yang menjuntai. Alat peledak itu dibawa dalam tas belanja yang tertutup rapat.

Baca: Kedua Kalinya, Korut Tembakan Rudal Melewati Jepang

ISIS Klaim Jadi Dalang

Sementara itu, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas ledakan di Parsons Green. Dalam sebuah pernyataan di saluran resminya di aplikasi Telegram, kelompok tersebut mengatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh detasemen ISIS.

"Bom di metro (kereta) London dibawa oleh seorang detasemen dari ISIS," kata ISIS

Dalam pernyataan berikutnya, ISIS mengaku bahwa penyerang berhasil menanam sejumlah alat peledak dan meledakkan salah satunya.