Selasa, 17 Oktober 2017

PRAMUGARI HISTERIS, AIRASIA AUSTRALIA-BALI JATUH HINGGA 20.000 KAKI


OKEKIUKIU - Sebanyak 151 orang yang berada di Pesawat AirAsia QZ535, yang terbang dari Australia menuju Bali pada Minggu 15 Oktober 2017, mengalami hal mengerikan. Airbus A320 yang mereka tumpangi mengalami loss altitude atau kehilangan daya untuk mempertahankan ketinggian, setelah 25 menit mengudara dari Bandara Perth.

Sejumlah media Australia melaporkan, pesawat itu sempat terjun 20.000 kaki (6.096 meter) dari ketinggian 32.000 kaki. Kondisi tersebut memaksa pesawat putar balik ke Perth di tengah perjalanan dan berhasil mendarat dengan aman. Para penumpang bersyukur bisa selamat.

Meski demikian, sejumlah penumpang AirAsia Qz535 mengkritik respons para awak kabin dalam menghadapi situasi gawat di angkasa.

Para penumpang menuturkan, kepanikan dimulai ketika para awak kabin histeris karena pesawat tiba-tiba kehilangan daya dan anjlok dari ketinggian. Pilot lalu mengumumkan bahwa telah terjadi penurunan tekanan udara dalam kabin.

"Sebelumnya tidak ada kepanikan apa pun. Namun, tiba-tiba semua jadi panik. Para pramugari berteriak histeris, 'Darurat, darurat'," cerita seorang penumpang, Mark Bailey.
Baca Juga:
"Mencemaskan, Trump Berpotensi Picu Perang Dunia III"
Kebakaran Dahsyat Landa California, Terbesar Sepanjang Sejarah?

Penumpang lain, bernama Merv Loy mengatakan, instruksi yang mereka terima dalam Bahasa Inggris hanyalah untuk memasang sabuk pengaman dan 'brace'.

Brace atau 'brace for impact' adalah seruan agar penumpang memposisikan diri untuk menerima benturan keras.

"Kami tak memahami kata-kata yang mereka sampaikan saat itu. Situasinya sungguh mengerikan," kata Loy.

Sementara, penumpang lainnya bernama Glenyce Regan mengaku mulai berdoa saat perempuan yang duduk di sebelahnya menuliskan sesuatu di buku catatan sambil berlinang air mata.

"Saya bisa merasakannya (kehilangan tekanan) dari napas, apalagi belum lama ini aku menjalani operasi jantung. Imbauan yang disampaikan semuanya dalam Bahasa Asia, atau Thailand, atau entah apa. Kami tak bisa memahami pengumuman apapun yang keluar dari pengeras suara," ujar perempuan itu.

Kala itu, Regan mengaku reflek mengambil rosario dan mengalungkannya ke leher. Saya pikir kami akan meninggal," kata dia.

Seorang perempuan mengatakan kepada The West Australian, para penumpang sempat berpikir, pesawat akan jatuh di lapangan rumput. Saking paniknya, mereka buru-buru meraih jaket penyelamat di bawah kursi dan memakainya.

Padahal, jaket penyelamat hanya efektif untuk pendaratan di perairan. Situasi itu ikut dipicu sikap para pramugari. "Para awak kabin menjerit keras-keras," ujar perempuan tersebut.

Sementara, penumpang lain bernama Clare Askew, juga mengakui bahwa kepanikan dipicu oleh tingkah laku awak kabin.

"Kepanikan semakin menjadi-jadi lantaran tingkah laku para awak kabin yang sampai berteriak dan terlihat sampai menangis," tutur Askew.

Hal senada disampaikan Degi Chimedlkham, yang terbang bersama ibunya yang telah sepuh. Ia mengkritik cara awak kabin menangani situasi darurat. Sampai-sampai sang ibu mengira, sedang terjadi serangan teroris.

"Siapa yang seharusnya menjaga para penumpang? Bukankah para awak kabin? Tapi mereka justru membuat kami makin ketakutan," kata Chimedlkham.

Juru bicara AirAsia mengatakan bahwa pesawat tersebut harus kembali ke Perth karena ada masalah teknis yang sedang diselidiki. Belum ada konfirmasi atau jawaban atas kritik terhadap sikap awak pesawat saat menghadapi situasi darurat.