UA-108076337-2 OKEKIU POKER ONLINE TERPERCAYA: JOKOWI SUDAH KANTONGI "TIKET" PILPRES 2019, SIAPA LAWANNYA?

Sabtu, 22 Juli 2017

JOKOWI SUDAH KANTONGI "TIKET" PILPRES 2019, SIAPA LAWANNYA?

OKEKIUKIU - Presiden Indonesia ke-7, Joko Widodo, sudah punya "tiket" untuk kembali mencalonkan diri dalam Pemilu Presiden 2019 mendatang menyusul adanya 3 parpol yang menyatakan akan kembali mendukungnya.

Tiga parpol yang sudah menyatakan akan mendukung Jokowi di Pilpres 2019 adalah Golkar, Nasdem, dan PPP. Dengan UU pemilu yang baru, maka perolehan suara tiga parpol itu sudah cukup bagi Jokowi untuk maju ke Pilpres 2019.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) secara resmi mengumumkan dukungannya dalam Musyawarah Kerja di Ancol, Jakarta, Jumat (21/7/2017). Pengumuman tersebut disampaikan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy dihadapan Jokowi yang hadir dalam forum itu.

Pada akhir tahun lalu, Partai Hanura juga sudah sepakat untuk mendukung Jokowi di pilpres 2019. Keputusan ini diambil dalam Musyawarah Nasioanl Luar Biasa Parta Hanura di Kantor DPP Hanura, Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Namun, partai yang pertama kali mengumumkan dukungan kepada Jokowi agar kembali maju sebagai capres adalah Partai Golkar. Partai yang mendukung Prabowo pada Pilpres 2014 ini, perlahan mengubah haluan mendukung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Partai pendukung pemerintah lain, yakni PDI-P, Nasdem, PAN, dan PKB, sejauh ini masih bungkam sola calon yang akan mereka usung pada Pemilu 2019. Namun, kekuatan tiga parpol saja sudah cukup bagi Jokowi untuk menjadi capres lagi.
BACA: Indonesia Peringkat 1 Dalam Tingkat Kepercayaan Terhadap Pemerintah

Dalam UU Pemilu yang diatur oleh Presidential Threshold (PT), Parpol dapat mengusung pasangan capres dan cawapres harus mengantongi 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional di pemilu, Pemilu 2014. Gabungan suara Golkar, Nasdem, dan PPP sudah memenuhi syarat itu.

Di Pemilu 2014, Golkar meraih 14,75 persen suara, Nasdem 6,72 persen suara, dan PPP 6,53 persen suara. Gabungan suara ketiga parpol yaitu 28 persen perolehan suara di Pemilu 2014. Artinya meski tanpa PDIP, Jokowi sudah punya tiket ke Pilpres 2019 dari dukungan ketiga parpol itu.

Siapa Lawan Jokowi?

Nama yang santer untuk menjadi lawan Jokowi adalah Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Bila keadaan seperti ini, keadaan pun akan kembali terulang seperti Pilpres 2014.

PKS sudah memberi sinyal siap bergandengan tangan lagi dengan Gerindra jika PT 20-25 persen dinyatakan sah oleh Mahkamah Konstitusi, jika nanti ada yang menggugat. Dengan niat Gerindra kembali mengusung Prabowo Subianto, maka terbuka peluang duel Jokowi vs Prabowo terulang di Pilpres 2019.

Namun, Gerindra ternyata juga memiliki kekhawatiran gagalnya Prabowo untuk kembali nyapres. Pasalnya Presidential Threshold (PT) yang diatur dalam UU Pemilu baru akan dianggap sebagai penghalang bagi Gerindra.

Sebab perolehan kursi di DPR Gerindra bila digabungkan dengan PKS belum juga cukup memenuhi syarat 20%. Gerindra juga disebut hampir mustahil untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat agar bisa menambah syarat Presidential Threshold.

"Kalau kita cuma sama PKS, kalau 20% nggak cukup, kalau ditambah sama PAN kita cukup. PKS nggak sampe 7%, hanya 5,5%  kalau nggak salah. Gerindra 12%. PAN 7%, Demokrat 10%, nggak cukup juga itu kalau Demokrat dan PAN berdua aja. Kalau berempat berarti cukup tapi belum tentu sama platform-nya," kata Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono.

"Kadang kan dalam perhelatan pemilihan kepada daerah atau pilpres, Demokrat nggak mau ikut kita, mungkin karena SBY dan Pak Prabowo nggak mau nyatu. Pilpres 2014 nggak ke kita," lanjutnya.