Minggu, 16 Desember 2018

Wanita ini Izinkan Suaminya Punya Banyak Istri, Mengapa?

https://okekiuq.blogspot.com
MantapKiu - Seorang wanita asal Thailand membuat banyak orang bertanya-tanya karena mengizinkan sang suami melakukan poligami.

Tak hanya satu, tapi tiga. Dengan kata lain, sang suami kini memiliki empat istri. Lalu apa alasan sang istri pertama memperbolehkan suaminya melakukannya?
https://bit.ly/2wVK34x
https://okekiuq.blogspot.com
Wanita bernama Waraphon Pruksawan mengunggah curahan hatinya tentang dirinya yang dipoligami sang suami. Meski dimadu sebanyak tiga kali, ia mengaku bahagia.

Malahan, Waraphon kerap mengunggah foto kebersamaan ia bersama suami dan istri-istri suaminya yang lain.

Wanita itu beralasan, ia tak ingin suaminya berselingkuh atau 'main belakang' dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya. Karenanya, saat si suami merasa tertarik dengan seorang wanita, Waraphon merasa lebih ikhlas jika harus dipoligami.
https://okekiuq.blogspot.com/https://okekiuq.blogspot.com/
"Lebih baik suami saya 'bermain bersih' daripada berselingkuh diam-diam," ujar Waraphon.

Meski tidak masuk akal, ia justru mengungkapkan bahwa ia bangga dengan suaminya yang memiliki empat istri. Sebab ini membuktikan bahwa mereka dapat hidup harmonis di bawah atap yang sama tanpa drama apapun.

Curhatan wanita cantik itu mendapat perhatian warganet. Posting-an Waraphon viral di media sosial dan telah dibagikan lebih dari 29 ribu kali.
https://bit.ly/2wVK34x
Read More »
Blogger Widgets

Rabu, 12 Desember 2018

Waktu Perkiraan Ahok Bebas dan Banjir Undangan Dari Mancanegara

https://okekiuq.blogspot.com
MantapKiu - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok diperkirakan akan bebas murni setelah menjalani masa tahanannya selama 2 tahun pada 24 Januari 2019. DominoQQ

"Jika diperhitungkan sejak tanggal penahanan 9 Mei 2017, maka (Ahok) diperkirakan akan bebas pada Januari 2019," ujar Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Ade Kusmanto.

Ahok akan keluar dari balik jeruji besi pada 24 Januari 2019 jika mendapatkan remisi satu bulan pada Hari Raya Natal 2018. Ahok telah diusulkan untuk mendapatkan remisi tersebut. Surat keputusan (SK) soal usulan remisi akan terbit pada 25 Desember 2018.

"Pada tanggal 25 Desember 2018 ini diusulkan untuk mendapat remisi Natal satu bulan," kata Ade.

Ahok dipertimbangkan mendapatkan remisi karena masa tahanannya sudah lebih dari enam bulan. Ahok juga berkelakuan baik dan tidak sedang menjalani hukuman disiplin dalam enam bulan terakhir.

"Pengurangan menjalani masa pidana yang akan diusulkan kepada Ahok bisa diberikan jika Ahok sampai waktu yang telah ditetapkan konsisten menaati segala peraturan selama masa pidananya (berkelakuan baik)," ucap Ade.

Pemotongan masa tahanan pada Natal 2018 merupakan remisi ketiga yang diperoleh Ahok. Ahok sebelumnya pernah mendapat remisi Natal 2017 selama 15 hari dan remisi pada 17 Agustus 2018 selama dua bulan.

Dengan demikian, total remisi yang diperoleh Ahok yakni 3 bulan 15 hari. Dengan total remisi itulah, Ahok diperkirakan akan bebas pada 24 Januari 2019.
https://bit.ly/2wVK34x
Banjir Undangan Dari Mancanegara

Salah satu staf Ahok, Ima Mahdiah mengatakan saat ini mantan Gubernur DKI Jakarta sudah banjir undangan dari sejumlah negara.

"Pak Ahok sudah banyak undangan ke luar negeri dan kota-kota lain," ujar Ima Mahdiah

Sejumlah negara yang sudah melayangkan undangan kepada Ahok misalnya Amerika, Selandia Baru, Australia, Korea, Jepang, Hongkong, Malaysia, Singapura, Timor Leste dan masih banyak negara lainnya.

"Banyak sekali negara yang mengundang, nanti akan kita saring dulu," ujar Ima.

Ahok, kata Ima, diminta menjadi pembicara dan berbagi pengalaman soal kehidupan, birokrasi dan lainnya.

"Jadi pembicara, soal pengalaman hidup beliau, masyarakat di sana, belajar soal apa, tentang kehidupan, birokrasi bagaimana dulu sebagai gubernur," ujar Ima.

Sehingga, saat inipun pihaknya tengah repot mengatur jadwal Ahok meski belum keuar dari penjara. "Makanya kita atur lagi jadwalnya," tandas Ima.
https://bit.ly/2wVK34x
Read More »

Senin, 10 Desember 2018

Presiden Jokowi: Kita Butuh Kritik Berbasis Data, Bukan Kebohongan

https://okekiuq.blogspot.com
MantapKiu - Presiden Indonesia ke-7, Joko Widodo, kembali menegaskan bahwa pemerintah saat ini sangat terbuka dengan kritik yang berbasis pada data dan membangun. Ia menolak jika kritik yang mengarah pada pembodohan atau kebohongan.

Hal tersebut disampaikan Jokowi saat membuka Pembukaan Konvensi Nasional Humas di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/12).

Jokowi mengatakan, peran humas sangat penting di tengah melubernya informasi saat ini. Ia prihatin terhadap munculnya konten-konten negatif, berita provokatif, adu domba, ataupun kabar bohong yang akhir-akhir ini banyak sekali muncul.

"Kita membutuhkan kritik-kritik yang berbasis data. Tapi bukan pembodohan atau kebohongan, bukan narasi yang menebar pesimisme, narasi yang menakut-nakuti," kata Jokowi.

Jokowi menilai, tak jarang berita bohong sengaja disebar untuk membangkitkan rasa takut, membangkitkan pesimisme, menebar ketakutan, menebar kecemasan, dan perasaan terancam.
https://bit.ly/2wVK34x
Ia mengakui, dalam menghadapi hal itu, tidak cukup dengan regulasi dan penegakan hukum. Yang diperlukan adalah literasi digital sehingga warga tidak hanya mampu menggunakan teknologi informasi, tapi juga mampu memilih dan memilah informasi, mampu melakukan cek silang, serta mampu melakukan klarifikasi saat menerima sebuah informasi.

"Kemajuan teknologi informasi digital yang sangat cepat harus diimbangi dengan standar moral dan etika yang tinggi dari penggunaannya," kata dia.

Oleh karena itu, Jokowi mengapresiasi konsistensi perhimpunan humas yang selama ini terus mengusung tanda pagar atau hashtag #IndonesiaBicaraBaik. Jokowi mengaku sangat setuju dengan gerakan tersebut.

"Indonesia bicara baik ini sebuah ajakan gerakan sosial, ajakan untuk hijrah dari pesimisme menuju optimisme, hijrah dari semangat negatif ke semangat positif, dari hoaks ke fakta, dari kemarahan ke keramahan," kata Jokowi.

"Tentu bicara baik bukan berarti kita menutup fakta bahwa masih ada yang kurang. Masih banyak yang kurang iya. Kita harus jujur bahwa masih ada yang perlu diperbaiki, dibenahi, direformasi. Masih ada kerja-kerja yang terus harus kita percepat," lanjut dia.
https://bit.ly/2wVK34x
Read More »